Muadz bin Jabbal
Muadz bin Jabbal adalah seorang ahli ilmu dan amal. Muadz adalah satu-satunya pemuda yang mengikuti Baiat Aqobah kedua diantara tujuh puluh orang yang hadir kala itu.
Muadz bin Jabbal mempunyai keahlian dalam bidang fiqih, karena keunggulannya itu Muadz pun dipuji oleh Rasulullah SAW. Beliau berkata,"Umatku yang paling tahu tentang yang halal dan yang haram ialah Muadz bin Jabbal."
Kecerdasan dan keberanian Muadz bin Jabbal dalam berpendapat hampir sama dengan Khalifah Umar bin Khattab, hal ini tampak ketika Rasulullah SAW mengutusnya ke Yaman.
Rasulullah bertanya kepada Muadz, "Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Muadz?"
"Kitabullah,"jawab Muadz bin Jabbal.
"Bagaiman jika kamu tidak menjumpainya dalam kitabullah?" tanya Rasulullah.
"Saya putuskan dengan sunnah Rasulullah," jawab Muadz.
"Bagaimana jika tidak kamu jumpai dalam sunnah Rasulullah," tanya Rasulullah.
"Saya gunakan pikiran untuk berijtihad dan saya tak akan berlaku sia-sia," ujar Muadz bin Jabbal.
Seketika wajah Rasulullah SAW berseri-seri. Lalu beliau bersabda, "Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhoi Rasulullah."
Sebelum mengembuskan nafasnya yang terakhir, Umar pernah ditanya oleh seseorang, "Bagaimana jika Anda tetapkan pengganti Anda?Artinya Anda pilih sendiri orang yang akan menjadi Khalifah itu, lalu kami baiat dan menyetujuinya."
Umar pun menjawab, "Seandainya Muadz bin Jabbal masih hidup, tentu saya angkat ia sebagai Khalifah. Jika saya menghadap Allah dan ditanya tentang pengangkatannya, 'Siapa yang kamu angkat menjadi pemimpin bagi umat manusia?', maka akan saya jawab, 'Saya anglat Muadz bin Jabbal, karena saya telah mendengar Rasulullah SAW telah bersabda, 'Muadz bin Jabbal adalah pemimpin golongan ulama pada hari kiamat.'"
Suatu hari, Rasulullah SAW bersabda, "Hai, Muadz! Demi Allah, aku sungguh sayang kepadamu. Maka, janganlah lupa setiap habis shalat mengucapkan, 'Ya Allah bantulah aku untuk selalu ingat dan syukur serta beribadah dengan ikhlas kepada Mu.'"
Muadz selalu mematuhi setiap ajaran Rasulullah SAW. Pada suatu pagi, Rasulullah SAW bertemu Muadz dan bertanya, "Bagaimana keadaanmu pagi hari ini?"
"Pagi hari ini, aku benar-benar twlah beriman, ya Rasulullah," ujar Muadz bin Jabbal.
"Setiap kebenaran ada hakikatnya, lalu apa hakikat keimananmu?" tanya Rasulullah.
Muadz menjawab, setiap berada pada pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Dan setiap berada pada waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi. Dan tiada satu langkahpunyang kulangkahkan, kecuali aku menyangka tiada akan diiringi dengan langkah lainnya. Dan seolah-olah kesaksian setiap umat jatuh berlutut, dipanggil untuk melihat buku catatannya. Dan seolah-olah aku saksikan penduduk surga menikmati kesenangan surga, sedang penduduk neraka menderita siksa di dalam neraka."
Waktu itu penduduk Makkah meminta didatangkan orang yang bisa mengajarkan syariat islam, Rasulullah SAW mengutus Muadz bin Jabbal untuk tinggal di Makkah dan mengajarkan para penduduk Makkah tentang syariat agama islam.
Selain penduduk Makkah, Rasulullah SAW juga mengutus Muadz untuk mengajar raja-raja Yaman.
Muadz bin Jabal juga diutus oleh Khalifah Umar bin Khattab untuk mendamaikan pertikaian di kalangan Bani Khilab.
Muadz bin Jabbal wafat di Urdun saat terjadi wabah penyakit menular
Banyak hikmah yang bisa dipetik dari kisah Muadz bin Jabbal, yaitu ;
1. Berani untuk mengungkapkan pendapat
2. Selalu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.
3. Meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT.
Sumber : TinambunMegah,etc, Kisah 50 Sahabat Rasulullah (Yogyakarta : Checklist),h13
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2998244340031743"
crossorigin="anonymous"></script>
Komentar
Posting Komentar